Religi yang berkembang pada era Tokugawa dan Meiji

Posted: January 5, 2011 in journal

Perkembangan Religi di Jepang pada Era Tokugawa dan Meiji.

I. Pendahuluan

Sejak Nobunaga Oda berkuasa, Jepang sudah membuka diri terhadap bangsa asing. Tidak hanya terbatas pada Cina dan Korea saja, namun Barat pun mulai mendekati Jepang. Hal ini dibuktikan dengan mulai digunakannya senjata api pada zaman Azuchi-Momoyama. Selain senjata api dan bahan sandang, orang-orang asing tersebut juga memperkenalkan ideologi mereka pada masyarakat Jepang. Pada abad ke 6, ajaran Buddha sudah masuk ke Jepang dan mulai banyak peminatnya. Pada tahun 1542, masuklah agama Kristen yang kemudian disusul oleh bermacam agama dan sekte yang lainnya.

Kestabilan yang terjadi pada era Tokugawa dan era Meiji membuat banyak agama dan sekte berkembang, baik yang resmi maupun yang dilarang oleh pemerintah. Berikut adalah agama yang pernah ada pada era Tokugawa dan era Meiji.

II. Agama di Jepang

A. Shinto

Merupakan ajaran agama yang paling mendasar tanpa diketahui secara pasti siapa penemunya. Ajaran yang lebih mengarah pada aspek animisme dan dinamisme ini telah mengakar dalam diri orang Jepang sejak zaman dahulu. Dewa Shinto disebut Kami, yang merupakan arwah suci yang mengambil perwujudan penting dalam konsep hidup manusia, seperti angin, hujan, gunung, sungai, dan kesuburan. Manusia yang telah mati juga dapat menjadi Kami., yaitu sebagi Kami Leluhur, Kami Pelindung dan lain-lain. Dewi Amaterasu adalah Kami yang paling penting bagi orang Jepang.

Ajaran Shinto ini sendiri tidak mengenal absolutisme, jadi hanya merupakan kepercayaan optimisme, sebagaimana pemikiran manusia yang pada dasarnya adalah baik, dan tindakan jahat dianggap muncul akibat pengaruh buruk dari roh jahat. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, untuk menghilangkan roh jahat perlu dilakukan penyucian, berdoa, dan memberikan sesaji pada Kami.

Selain digunakan sebagai tempat memuja, Kuil Shinto adalah tempat tinggal bagi para Kami. Kuil ini juga digunakan untuk mengadakan perayaan atau festival untuk menunjukkan dunia luar pada Kami. Adapun dalam rumah diletakkan kuil kecil sebagai rumah bagi Kami Leluhur masing-masing keluarga. Altar tersebut disebut Kamidana.

Pendeta Shinto bisa laki-laki atau perempuan. Mereka diizinkan menikah dan bekeluarga. Pendeta ini dibantu oleh seorang wanita lajang yang disebut Miiko dan biasanya merupakan anak dari pendeta itu sendiri. Pendeta dan Miiko bertugas menjaga kuil dan melakukan ritual keagamaan, seperti upacara pernikahan, matsuri tahun baru, dan lain sebagainya.

B. Buddha

Buddha lahir di India pada abad ke 6 SM, yang merupakan ajaran dari Sang Buddha itu sendiri, Shiddarta Gautama. Ajaran Buddha yang diterima di Jepang adalah aliran Mahayana atau Kendaraan Besar.

Buddha masuk ke Jepang pada abad ke 6 melalui China dan Korea. Kedatangannya disambut baik oleh banyak penguasa daerah di zaman itu, namun karena rumitnya teori yang diajarkan, ajaran ini tidak segera menyebar dengan cepat. Pada awalnya, terjadi ketidakharmonisan antara ajaran Buddha dengan ajaran Shinto, namun selang beberapa waktu, rakyat Jepang berhasil mengasimilasi kedua ajaran tersebut sehingga dapat melengkapi satu sama lain.

Dalam perjalanannya, ajaran Buddha berkembang menjadi bermacam-macam sekte, seperti Tendai, Shingon, Jodo, Jodo Shinshu, Zen, Nichiren dan masih banyak lagi. Pada era Tokugawa, Zen Buddha mengalami perkembangan yang sangat pesat.

C. Kristen

Agama Kristen masuk ke Jepang pada tahun 1542, dimana untuk pertama kalinya orang Eropa tiba di Jepang, yaitu di Kyushu. Daimyo wilayah Kyushu membebaskan misionaris untuk menyebarkan agama Kristen sehingga banyak orang Kyushu yang tertarik untuk memeluk agama ini.

Pada tahun 1550, Francis Xavier pergi ke Kyoto untuk menyebarkan agama Kristen, namun usahanya gagal akibat dikeluarkannya dekrit yang melarang penyebaran agama Kristen pada tahun 1559 oleh Toyotomi Hideyoshi. Sebagai peringatan, Hideyoshi kembali mengeluarkan dekrit yang lebih serius lagi dan mengeksekusi 26 Fransiscan di Nagasaki

Alasan utama pelarangan penyebaran agama Kristen ialah keinginan pemerintah untuk mengontrol masyarakat secara penuh. Hal ini tidak mungkin dilakukan apabila ada campur tangan dari agama asing yang dikhawatirkan akan dapat mengubah pemikiran masyarakat Jepang.

III. Pembahasan

  1. Agama pada Era Tokugawa

Pada era ini terjadi pembaharuan dan formalisasi agama. Tokugawa Ieyasu mengeluarkan dekrit yang menyatakan Budha sebagai agama nasional namun banyak yang tidak setuju akan hal ini, terutama golongan radikal yang mendukung Kaisar. Meskipun demikian tidak banyak dari meraka yang menentang secara terang-terangan karena khawatir akan posisi mereka.

Aliran Buddha yang dijadikan agama nasional adalah Zen-Buddha. Inti dari Zen-Buddha ini adalah meditasi mencari pencerahan dalam diri sendiri tanpa pengaruh hal-hal luar. Tidak terlalu menekankan akan Tuhan, namun lebih kepada alam sebagai guru. Pembaharuan yang tampak secara jelas terdapat pada falsafah Jepang. Sistem yang digunakan bakufu menganut aliran Neo-Confusianisme. Meskipun tidak diakui sebagai agama tetapi tetap saja banyak orang yang memilih aliran ini sebagai jalan hidup mereka. Prinsip Bushido juga merupakan adaptasi dari falsafah dasar dalam Confusianisme. Selain pada Neo-Confusianisme, ajaran Shinto juga mengalami pembaharuan dengan munculnya istilah Sonno Joi. Sonno joi adalah ungkapan berisikan “Hormati Kaisar, usir orang Barbar (maksudnya orang Eropa)” Pada titik ini Kaisar diharapkan dapat membimbing Jepang menuju kejayaan sebagai perwujudan Amaterasu di dunia. Hal ini terjadi saat kembalinya kekuasaan pada kaisar ketika Tokugawa Yoshinobu menyerahkan kekuasaan Shogun kepada Kaisar.

Sedangkan yang terjadi pada agama Kristen adalah “dianggap tidak ada”. Seluruh pengikutnya diburu oleh pegawai ke-Shogun-an. Lalu muncullah Kakure Kirishitan atau Kristen Tersembunyi. Kakure Kirishitan ini sedikit mengubah bentuk patung Bunda Maria agar tidak dicurigai oleh Bakufu. Bentuknya lebih menyerupai Boddhisatva sehingga sering dikira sebagai salah satu sekte agama Budha.

Pada pertengahan tahun 1630, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Amakusa Shiro, pemimpin Kakure Kirishitan di wilayah Shimabara, Nagasaki. Perang ini kemudian disebut Pemberontakan Shimabara. Hasil dari perang ini adalah kekalahan di pihak Kakure Kirishitan. Hampir seluruh penganut Kakure Kirishitan tewas ditangan pasukan ke-Shogun-an.

  1. Agama pada Era Meiji

Pada masa ini terjadi transisi di Jepang, dari foedal menuju ke modern Pada masa ini, kekaisaran mulai mengubah sistem pemerintahan, sistem perekonomian, sistem pendidikan, dan militer baik di darat maupun di laut. Agama Buddha juga terkena imbasnya. Karena Kaisar tidak lagi menjadi penguasa mutlak, maka dukungan terhadap agama Buddha pun hilang dengan digantikannya agama Shinto yang menjadi agama nasional.

Selain itu, mulai terjadi pemisahan antara Buddha dan Shinto. Banyak kuil Shinto dibersihkan dari atribut Buddha yang terdapat di dalamnya. Walaupun demikian pada akhirnya kedua aliran ini tetap dapat saling melengkapi satu sama lain. Banyak dijumpai kuil Shinto yang bergaya mirip kuil Buddha.

Agama Kristen mulai bebas masuk dan berkembang di Jepang. Para penganut Kakure Kirishitan pun mulai bisa melakukan ibadah secara terang-terangan.

IV. Kesimpulan

Bangsa Jepang dapat menerima ide, falsafah, serta agama dari luar tanpa kehilangan jati diri budaya sendiri karena mereka mampu beradaptasi. Hal ini dapat kita lihat pada era Tokugawa dan Era Meiji, dimana agama Shinto dan Budha dapat saling melengkapi dan hidup berdampingan. Bahkan selama saya melakukan riset ini, saya mendapati fakta bahwa agama Buddha yang ada di Jepang berbeda dengan agama Budha yang dibawa dari China maupun Korea, meskipun seringkali terjadi pasang surut dalam prosesnya.

Essay ini telah dimuat di jurnal Sastra Jepang Univ. Airlangga.

yaitu Gakushiki no Kura edisi II November 2010.

Created by Ratih Rachmitha Sari S.

Comments
  1. haruki anzai says:

    hah.. thanks. ini mau post lagi ttg makalah nihonshi yang aku buat semalem.

    dibaca ya

    Like

  2. homerame says:

    harap cantumkan referensi dari tulisan ini🙂

    Like

    • haruki anzai says:

      Berikut daftar pustaka yg saya gunakan

      Bellah, Robert. N. 1992. Tokugawa Religion. Jakarta : Gramedia

      Earhart, Byron. H. 2004. Japanese Religion : unity and diversity 4th ed. Belmont. CA : Thomson/Wadsworth
      ……….. 1997.Religion in the Japanese Experience : Source and interpretation 2nd ed. Belmont. CA : Thomson/Wadsworth

      Kasulis, Thomas. P. 1998. Routledge Encyclopedia of Philosophy. London : Routled.

      Maaf saya lupa mencantumkn sumber datanya. Ini semoga membantu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s