Burakumin~

Posted: July 6, 2011 in journal
Tags: , , , ,

Bab 1

Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

Dewasa ini, Jepang sudah membuka diri pada dunia, tidak lagi tertutup dan mengasingkan diri jauh dari masyarakat global ketika politik Sakoku diberlakukan pada era Tokugawa. Namun di Jepang, masyarakat sendiri masih begitu menutup diri dari orang asing yang tinggal di sekitar mereka. Bahkan ada pula masyarakat yang diacuhkan oleh masyarakat Jepang sendiri.

Masyarakat yang diacuhkan dalam masyarakat Jepang itu sendiri, merupakan orang-orang yang “berbeda” bagi orang Jepang. Berbeda yang dimaksud dalam konteks orang Jepang memiliki makna sangat luas dan cukup rumit. Berbeda dalam masyarakat Jepang dapat dilihat dari status sosial, pekerjaan, bahkan warna kulitpun dipermasalahkan. Banyak sekali hal yang dapat membuat orang dianggap berbeda dalam suatu kumpulan masyarakat di Jepang. Hal yang sepelepun dipermasalahkan hingga menjadi besar.Dalam hal ini yang akan saya kemukakan adalah perbedaan dilihat dari status seseorang dalam masyarakat di Jepang yaitu, Burakumin.

Burakumin adalah masyarakat minoritas yang terbentuk ketika zaman feodal akibat adanya penggolongan Shinokosou di masa itu. Alasan mengapa adanya Burakumin adalah mereka melakukan hal yang tak sesuai dengan agama Buddha dan Shintou sehingga dianggap menyimpang. Padahal Burakumin justru mengambil tempat penting dalam masyarakat karena tak seorangpun mau melakukan hal itu.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1.  Apa itu Burakumin?
  2. Sejak kapan Burakumin muncul di Jepang? Mengapa?
  3. Bagaimana sikap golongan Burakumin menyikapi kasta mereka?
  4. Bagaimana sikap masyarakat terhadap kaum Burakumin di sekitar mereka?
  5. Apa peran pemerintah Jepang menyikapi keberadaan Burakumin sekarang?
  6. Bagaimana usaha Burakumin agar bisa diterima di masyarakat secara utuh?

 

1.3  Metodelogi Penelitian

Metodelogi yang digunakan adalah kajian kepustakaan dan membandingkan data statistik yang ada.

1.4  Tujuan Penulisan

  1. Ingin mengetahui heterogenitas di dalam homogenitas yang dibentuk oleh masyarakat Jepang.
  2. Memperdalam pengetahuan mengetahui kondisi masyarakat Jepang secara riil.
  3. Memenuhi tugas UAS shakai nyumon yang dibina Putri sensei.

 

1.5  Manfaat Penulisan

  1. Menambah pengetahuan mengenai Jepang.
  2. Mengetahui kondisi masyarakat Jepang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 2

Burakumin : Masa Awal

2.1    Sejarah Awal Burakumin

Burakumin sendiri diperkirakan mulai muncul pada zaman Heian ketika pemerintahan Feodal mulai membagi masyarakat menjadi kasta-kasta tertentu. Kasta itu terbentuk akibat masuknya agama Buddha dari Cina ke Jepang melalui hubungan Jepang-Cina. Kemudian penggolongan Buddha dan Shintou itu mulai berakulturasi satu sama lain. Hingga kasta yang muncul pada zaman Heian merupakan hasil gabungan dari 2 ideologi tersebut.

Pada era Kamakura terjadi hal yang sama pula. Kasta yang ada dibagi sesuai dengan pekerjaan mereka, uji dan kabane (kaum aristokrat istana), omitakara (petani kerajaan, seniman), bemin (petani dan seniman, tetapi mereka melakukan pekerjaan yang lebih rendah daripada omitakara), yatsuko (budak). Selain itu, bemin sendiri masih dibagi menjadi 2 golongan lagi yaitu hakutei dan zoshiki. Dari keempat kasta yang ada itu tidak terdapat golongan orang-orang yang bekerja sebagai jagal hewan, pengrajin kulin, gelandangan, penyanyi, penari, mime, akrobatik dan lainnya mereka disebut heta, binin. Istilah heta atau binin ini muncul dari istilah dalam shintou.

Japan : A modern History, 2002

”Dasar dari Shintou adalah mempercayai kebaikan dan kedewaan dengan kesucian dan kebersihan, sesuatu yang tidak suci, tidak bersih dapat masuk ke dalam suatu benda, manusia, hewan sehingga menjadi jahat, penuh dosa. Tapi seseorang dapat menjadi terkontaminasi secara serius dengan membunuh hewan, melakukan sesuatu yang benar-benar salah dalam masyarakat, misalnya incest, bestiality. Orang semacam itu harus dikeluarkan dari masyarakat, berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Cara mereka bertahan hidup adalah dengan meminta-minta, menjadi penyanyi, penari,mime, pemain akrobat dan sebagainya.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa istilah heta, binin serta penggolongannya muncul dari shintou. Dari ajaran shintou inilah para penguasa yang memegang teguh ajaran shintou ini membagi rakyatnya menjadi kelas-kelas berdasarkan pekerjaan, kegiatan yang mereka lakukan. Suci atau tidak sucinya hal yang mereka lakukan dalam hidup.

2.2    Kehidupan Burakumin pada Era Feodal (Era Tokugawa)

Pada masa Feodal pemerintahan Tokugawa, Ieyasu mengubah seluruh wilayahnya agar menyembah Buddha sebagai agama utama. Memberlakukan politik Sakoku pada seluruh Jepang sehingga tak ada yang dapat mengkontaminasi Jepang dengan ideologi serta ajaran baru yang ada. Hal ini menyebabkan agama Buddha berkembang dan mendominasi dengan cepat.

Aliran Buddha Mahayana berkembang pesat di masa itu, menyisihkan Shintou sebagai aliran yang mendominasi di masanya. Meskipun tersisih tapi pada kenyataannya orang Jepang pada waktu itu dapat melakukan sinkretisasi dengan baik pada agama Buddha derngan ajaran Shintou. sehingga dalam setiap budaya hasil sinkretisasi tersebut masih bisa dirasakan misalnya saja pembagian kasta yang dilakukan Tokugawa menggunakan gabungan dari ajaran Buddha dan Shintou. Tidak berbeda jauh dari zaman feodal pendahulunya di Kamakura. Hanya menambah serta memperjelas definisi kasta yang ada.

Kaum burakumin di era ini tetap ada, mereka masuk golongan heta.  Mereka hidup di luar pusat kota, membentuk masyarakat yang terpisah. Mereka tidak tersentuh oleh kebijakan yang dibuat pemerintah, karena kebijakan yang digunakan mengikuti aturan ajaran Buddha. Kaum burakumin yang tinggal menetap kebanyakan adalah pengrajin kulit, pengurus jasad, pedagang barang-barang aneh, PSK, pengemis dan lain sebagainya.

Ada pula golongan Burakumin yang berpindah pindah, mengikuti pekerjaan mereka sebagai rombongan seniman keliling, pengemis, penari, penjahat dan lain sebagainya. Entah bagaimana caranya agar mereka tetap bertahan hidup karena di masyarakat sendiri Burakumin betul-betul tidak dianggap selayaknya manusia.

Pemerintah Edo sendiri mewajibkan kaum Heta dan hinin mengenakan pakaian khusus, berbeda dengan rakyat biasa. Tujuannya adalah untuk memudahkan mengenali mereka sebagai Heta dan Hinin. Selain itu, dalam Koseki yang dibuat oleh pemerintah Edo, mereka ditandai secara khusus sehingga pendataan mereka dipisah dari 4 kasta Shinokoso. Satu hal lagi, golongan Heta dan Hinin dilarang keras untuk menikah dengan 4 kasta tersebut, sehingga tidak mungkin terjadi percampuran keturunan antar-kasta.

2.3    Era Meiji

Setelah pemerintahan Tokugawa runtuh pada tahun 1868, dimulailah era Meiji yang diperintah langsung oleh Kaisar. Pemerintah Meiji mengadaptasi hampir seluruh sistem dari Barat dibawa ke Jepang. Mulai dari hal yang paling sederhana yaitu kebiasaan memakai pakaian barat hingga sistem pemerintahan yang ada.

Dengan mulainya modernisasi di Jepang pola pikir masyarakat sedikit demi sedikit berubah. Kaum Buraku mulai menyadari bahwa manusia itu pada dasarnya sama sehingga pada tahun 1871 pemerintahan Meiji meloloskan Undang-Undang Emansipasi. Dalam UU ini dicantumkan mengenai diskriminasi terhadap Burakumin

“ Keberadaan Heta dan Hinin haruslah dihapuskan, orang-orang yang berada dalam kasta tersebut harus diperlakukan sama dengan manusia lain baik di pekerjaan maupun masyarakat.”

Meskipun demikian Pemerintah Meiji sama sekali tidak membantu kaum Heta dan Hinin secara finansial maupun memberi pekerjaan yang layak bagi mereka. Di sisi lain kaum samurai yang kastanya dihapus pula mendapatkan bantuan finansial serta pekrjaan di pemerintahan baru. Betul-betul bertolak belakang dengan kaum Heta dan Hinin yang sama sekali tak mendapat bantuan apapun. Pada kenyataannya, masyarakat Meiji sendiri masih memisahkan diri dari Heta dan Hinin, menolak untuk bercampur dengan sesuatu yang nista.

Keadaan ekonomi kaum Heta dan Hinin sama sekali tak membaik. Hal ini karena setelah dihapuskan kasta mereka pekerjaan yang dulu dimonopoli oleh kaum Heta dan Hinin sudah dimonopoli oleh orang lain. Semakin sulit bagi mereka untuk mencari nafkah, sehingga cara apapun akan mereka lakukan. Banyak dijumpai kasus kematian akibat kelaparan.

Pada tahun 1903, dibentuklah semacam organisasi untuk meningkatkan status Burakumin agar diterima oleh masyarakat luas, organisasi itu bernama Greater Japan Fraternal Concilliation Society. Tujuan organisasi ini sudah jelas untuk menyamaratakan status Burakumin dengan masyarakat lain, meningkatkan kehidupan Burakumin baik secara finansial maupun secara moral. Langkah pertama yang mereka ambil adalah masuk ke dalam pemerintahan yang berkuasa saat itu dan melakukan lobi agar pemerintah mau membantu memakmurkan Burakumin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

Pergerakan Heta dan Hinin

3.1  Revolusi Heta tahun 1868

Pada tahun 1868, kaum Heta memberontak dan menghasilkan sebuah resolusi dari Tokugawa Yoshinobu bahwa diskriminasi kasta terhadap Heta dihapus. Kaum Heta dimasukkan ke dalam rakyat biasa, mendapatkan pendidikan, pekerjaan, kehidupan Heta meningkat, diterima dengan baik oleh masyarakat. Dalam bidang pendidikan dan pekerjaan, kaum Heta bisa mendapat pendidikan hingga universitas, bisa naik pangkat sesuai dengan kemampuannya. Dalam bidang militer dan pelayanan masyarakatpun heta dan Hinin diijinkan untuk turut serta.

Nama kasta Heta dan Hinin dirubah menjadi Shinheimin yang berarti masyarakat baru. Pemberian nama baru ini adalah untuk menegaskan bahwa Heta dan Hinin sudah tak ada lagi, dan lahirlah golongan baru yang sederajat dengan masyarakat lain.

Namun pada kenyataannya tidak sesuai seperti itu. Meskipun pemerintah Tokugawa sudah mengumumkan secara resmi namun suatu kebiasaan berabad-abad tak mungkin mudah dihapus atau diubah begitu saja. Seorang Heta meskipun dapat masuk sekolah, murid lain tetap saja menjauhi dirinya, bekerja di tempat yang sama bersama masyarakat biasa tak akan naik pangkat seahli apapun si Heta ini.

 

3.2 Suiheisha (National Leveller Association)

Pada 3 Maret 1922, dibentuklah organisasi bernama Suiheisha. Organisasi ini merupakan gabungan dari Burakumin di wilayah Kansai dan Honshu utara. Mendeklarasikan diri di Kyoto dengan anggota awal sejumlah 2000 orang, Suiheisha menjadi organisasi yang betul-betul berorientasi pada kesetaraan hak manusia.

Suiheisha memiliki 3 poin penting dalam usahanya menyetarakan hak mereka.

1. Menekan jumlah “penyerang” yang mendiskriminasi mereka dengan menggunakan istilah Burakumin, Heta maupun Hinin.

2. Menerbitkan buletin bulanan bernama Suihei untuk mengkoordinir usaha organisasi.

3. Menarik simpati dari Honganji Barat dan Timur.

Markas utama Suiheisha ada di Kyoto, hanya dengan waktu 1 tahun menyebar dengan cepatnya ke 7 perfektur lain di Jepang. Usaha yang paling utama adalah menekan jumlah orang yang mendiskriminasi Burakumin namun tak selamanya usaha ini berjalan mulus. Walaupun Suiheisha memberi pendidikan bahwa manusia di dunia itu setara, tak jarang pula terjadi kerusuhan antar anggota Burakumin dengan masyarakat yang secara radikal menolak keberadaan Burakumin di sekitar mereka.

Pada tahun 1937, pemimpin Suiheisha Matsumoto Jiichiro (Burakumin) memenangkan pemilihan dan masuk ke dalam anggota DIET. Hal ini dapat terjadi karena kemajuan usaha Suiheisha untuk menyebarluaskan kesetaraan hak manusia dapat dikatakan sukses. Kejadian ini membuktikan pula bahwa Burakumin bukanlah manusia rendah yang tak memiliki kemampuan apapun untuk dibanggakan.

Namun, setelah 28 Agustus 1940, Suiheisha mulai tak terdengar gaungnya lagi. Hal ini karena Jepang mulai memasuki masa Perang Dunia 2 dan seluruh rakyat Jepang terkonsentrasi disini. Gerakan Suiheisha terhenti tanpa ada tindak lanjut apapun.

3.3   Buraku Kaiho Zenkoku Iinkai (National Committee for Buraku Liberation)

Pada Februari 1946, ketika Jepang memasuki awal kalah Perang, pemimpin Suiheisha kembali berkumpul dan membentuk Buraku Kaihou Zenkoki Iinkai di Kyoto. Dimotori oleh Matsumoto Jiichiro, pemimpin suiheisha terdahulu, BKZI memulai gerakan awal seseudah PD 2. Jatuhnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, membuat pergerakan BKZI semakin mudah. Sehingga pada 1947, Matsumoto Jiichiro terpilih menjadi Wakil Kepala DIET elite.

Agustus 1955, perubahan nama dari BKZI menjadi Buraku Kaihou Domei (Buraku Liberation League). Setelah perubahan nama serta memperbaharui strategi yang ada, Matsumoto Jiichiro semakin gencar mengusahakan untuk menekan pemerintah agar Hak Buraku sebagai manusia terpenuhi secara utuh dan sama dengan warga Jepang lainnya.

BLL ini masih ada hingga sekarang dan merupakan organisasi persatuan Buraku terbesar di Jepang. Meskipun sudah nerpisah dari partai komunis yang menyokongnya selama bertahun-tahun lamanya. Di seluruh Jepang sendiri, terdapat organisasi Buraku skala kecil yang mengkoordinir dan melindungi Burakumin agar mendapat hak-haknya.

BLL sekarang terpecah menjadi dua faksi, ada yang masih bergabung dengan partai Komunis dan ada organisasi independen. Yang tergabung dengan partai Komunis cenderung keras dalam dunia politik, sedangkan organisasi independen berjuang secara halus di bidang pendidikan, hukum dan lainnya. Namun, seorang Buraku tetaplah Buraku, meskipun bergabung di organisasi berbeda tetapi tujuannya tetap sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

Pemerintah dan Burakumin 1980-2010

4.1  Keberadaan Burakumin di Jepang

“Heterogenitas di dalam homogenitas” menggambarkan keberadaan Burakumin di Jepang. Tidak ada perbedaan sama sekali antara warga Jepang non Buraku dengan warga Jepang Buraku, dari segi fisik, bahasa, budaya, semuanya sama persis. Seorang Buraku dapat dibedakan dari Koseki dan Chimei soukan. Keberadaan dokumen-dokumen tersebut, ditemukan di tahun 1975, namun baru diakui keberadaannya sekitar tahun 1980.

Dalam Chimei soukan yang ditemukan pada tahun 1975, tertulis data statistik mengenai jumlah Buraku, pekerjaan, alamat, jumlah keluarga dan keterangan lain yang dibutuhkan. Menurut data terakhir Chime soukan tahun 1993, total Burakumin di Jepang adalah 1,2 juta orang tersebar di 4442 komunitas di Dowa Distrik. Dowa Distrik adalah istilah Pemerintah bagi Distrik yang memiliki penduduk sebagai Burakumin (data statistik, kementerian Kependudukan Jepang 1993). Dowa distrik meliputi wilayah Osaka, Nagano, Aichi, Gunma dan daerah sekitarnya. Berbeda dengan data yang dimiliki BLL, total Burakumin di seluruh Jepang adalah 3 juta orang dan tersebar luas di 6000 komunitas Buraku di seluruh Jepang (data statistik, Buraku Liberation and Human Rights Research Institute) .

Data statistik diatas cukup mengejutkan orang Jepang sendiri, karena keberadaan Buraku selama ini dianggap hal yang tabu untuk dibicarakan secara umum, terbuka. Padahal di sekitar penduduk Jepang non-buraku banyak sekali penduduk yang dianggap sebagai Burakumin. Bagi Burakumin sendiri, diskriminasi tetaplah ada terutama di bidang pekerjaan dan pernikahan.

Koseki atau kartu keluarga, bagi Burakumin memiliki tanda khusus yang menyatakan bahwa mereka Buraku. Bahkan stempel keluarga atau Inkan, untuk Burakumin berbeda dari Inkan untuk penduduk Jepang non-Buraku. Hal yang seperti ini menyusahkan saat ingin meminjam uang di bank, melamar pekerjaan, menikah dengan pasangan “normal”, mengurus segala macam keperluan lainnya yang membutuhkan Inkan atau Koseki. Banyak petugas pemerintah yang secara terang-terangan menolak untuk melayani Burakumin dan membantu mereka menyelesaikan masalah yang dihadapi.

3.2  Kebijakan Pemerintah

Sejak awal munculnya Buraku, pemerintah mengambil peran penting dalam pembentukan kebijakan terhadap kehidupan para Burakumin ini.

Salah satu kebijakannya yang sangat populer adalah Hukum Ukuran Promosi dan Perlindungan Hak manusia yang dikeluarkan pada Desember 1996. Isi hukum tersebut adalah

“Pemerintah harus mendirikian Dewan yang melindungi Hak Burakumin secara penuh. Mensejahterakan Buraku dalam kurun waktu 5 tahun, terhitung dari tanggal disahkannya dokumen ini. Hal lain akan dibahas dan disesuaikan selama kurun waktu yang ditentukan.”

Setelah hukum ini muncul, diketahui bahwa pemerintah Jepang mengucurkan dana sebanyak 270 juta yen, untuk mendanai pembangunan fasilitas di Dowa distrik, menunjang kehidupan Buraku, membuka lapangan pekerjaan baru bagi Burakumin dan lain-lain.

Selain kebijakan Pemerintah  secara hukum, pemerintah juga mengontrol mengenai kebijakan kuil shintou dan Buddha. Salah satu bentuk ekstrem dari hal ini adalah dilarangnya seorang Buraku memasuki kuil yang bukan untuk kaum Buraku. ternyata kuil-kuil di Jepang memiliki keistimewaan tersendiri, tiap kuil digunakan oleh orang dari golongan yang berbeda. Pada masanya dulu, Buraku hanya bisa memasuki kuil kecil di wilayah Dowa Distrik. Secara praktiknya di masa sekarang, belum ditemukan adanya kasus seperti ini mencuat di kalangan publik, sehingga tidak diketahui masih terjadi atau tidak.

Kebijakan Pemerintah lain yang cukup mencengangkan adalah kebijakan Tooru Hashimoto (2009), gubernur Osaka, melarang pemberian subsidi bagi seluruh kegiatan Buraku untuk anggaran tahun 2009. mengapa demikian? Hal ini karena tulisan tahun 2006 yang dibuat oleh Atsushi Terazono (Burakumin) di blog pribadinya yang mengaitkan pejabat korup, kebijakan yang dibuat untuk Buraku. akibat perbuatannya dia ditahan dan diasingkan oleh Pemerintah. Berita ini hanya di post di situs Japan Times sekali, kemudian hilang dan tak pernah dibahas lagi. Kebijakan ini membuat organisasi UN yang bertugas di bidang Hak Manusia turun tangan untuk membantu melepaskan Atsushi Terazono.

Bab 5

Kesimpulan

1. “Heterogenitas di dalam Homogenitas” di Jepang sudah ada sejak terbentuknya pemerintah Feodal.

2. Burakumin tidak ada bedanya dengan penduduk Jepang lain. Hanya status saja yang membedakan.

3. demi mencapai kesetaraan, Burakumin telah mengalami berbagai waktu sulit.

4. semua itu ada harga yang harus dibayar demi kebebasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Sulan Reber, Emily A. 1999 Buraku Mondai in Japan: Historical and Modern Perspectives and Directions for the Future Harvard Human Rights Journal / Vol. 12, Spring 1999. (http://www.law.harvard.edu/students/orgs/hrj/iss12/reber_old.shtm)

Sen, Katayama. 2007. The Eta Movement. http://www.marxists.org/archive/katayama/1924/ci/eta.htm

http://www.minorityrights.org/5358/japan/japan-overview.html#current

http://blhrri.org/index.htm

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s